Tancepan Brahmastra Episode 5, Solidaritas untuk warga Taman Sari Bandung

Jumat (27/12), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Brahmastra, UKM Dharmagita Jawa, dan Frontier Bali kembali berkolaborasi menggelar Tancepan Brahmastra episode 05. Menapaki akhir tahun, episode kali ini Tancepan Brahmastra mengangkat Tema Kekeluargaan dalam prespektif Hindu.

Hal ini sejalan sebagai momentum untuk merespon dan bersolidaritas atas kejadian penggusuran yang terjadi di RW 11 Taman Sari Bandung, dimana puluhan keluarga dipaksa dan terpaksa untuk pergi meninggalkan RW 11 Taman Sari atas nama pembangunan rumah deret.

Acara Dipantik oleh Pemutaran film “Kami Bahagia, Kami Bertahan” besutan Prabowo Setyadi yang dimana karya film ini menggambarkan tentang beberapa keluarga yang masih bertahan atas kejadian penggusuran yang dilakukan di RW 11 Taman Sari, Bandung.

Mirah, Pemimpin Umum LPM Brahmastra menerangkan, acara ini selain acara rutin dan wujud aktivitas tradisi ilmiah, Tancepan kali ini merupakan respon guna bersolidaritas terhadap apa yang terjadi di Taman Sari Bandung” ujarnya.

Proyek yang berjalan sedari 2017 tersebut terasa simpang siur dan tidak memiliki keberpihakan terhadap warga RW 11 Taman Sari yang sudah puluhan tahun mendiami tempat tersebut, terlebih cara-cara atau pendekatan yang dilakukan pemerintah setempat tidak jelas. Begitupun juga dengan sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat dilakukan dengan cara yang tidak baik dan unprosedural.

Kejadian di Taman Sari merupakan potret perampasan lahan dan pengkebiran Hak Asasi Manusia dimana aparatus yang bertugas dilapangan menggunakan cara-cara yang represif. “Bandung katanya kota yang ramah HAM namun mengapa bisa kasus Taman Sari diwarnai pemukulan terhadap Warga ? Terlebih beberapa minggu sebelumnya kita baru saja memperingati hari HAM sedunia namun berbeda dengan di Taman Sari yang dilakukan oleh rezim hari ini” tungkas Natri Krisnawan dari Frontier Bali.

Dalam diskusi kali ini Tancepan mengajak salah satu dosen IHDN yakni Kadek Aria Prima Dewi. Ia menyebutkan bahwa Hindu mengajarkan untuk membangun kecerdasan sosial serta mengembangkan kemampuan setiap orang untuk memiliki nilai-nilai kekeluargaan.

Ia mengatakan “Keluarga merupakan pondasi yang kokoh untuk membangun peradaban yang besar” ujarnya

Ia menjelaskan, ajaran Hindu berfokus membangun kecerdasan sosial dan mengembangkan kemampuan setiap orang untuk memiliki nilai-nilai kekeluargaan tinggi.

“Dalam Tri Hita Karana ada prahyangan, palemahan, dan payongan. Jadi berkeluarga tidak hanya dengan manusia saja melainkan dengan Tuhan dan alam.” Lugasnyanya

Selain itu, Prima Dewi sangat mengapresiasi acara Tancepan Brahmastra ini. Era sekarang sudah seharusnya mahasiswa mesti kritis yang dimulai dengan open Minded.
“Kalian mesti berjejaring, nelatih diri dengan kegiatan-kegiatan seperti ini sebab apabila hanya mengandalkan apa yang didapat dikampus itu tidaklah cukup” Tambahnya.

Melalui Tancepan Brahmastra Ia mengemukakan pengharapan untuk kedepan, Tancepan Brahmastra harus tetap ada dan berlanjut.

Selain diskusi dan nonton film, pada gelaran kali ini juga terdpat Gerai Baca Frontier yang melapak berbagai buku-buku serta bacaan kritis serta tersedia box donasi yang akan disumbangkan kepada warga RW 11 Taman Sari Bandung.

“Panjang umur perlawanan,panjang umur, Taman Sari masih melawan dan Kami bersama Taman Sari” ungkap Yoga Sentanu ketua panitia acara Tancepan Brahmastra. (Ayudi)

Please follow and like us:
error

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)