Tancepan Brahmastra episode 02, Perempuan Bergerak

WhatsApp Image 2019-05-05 at 8.35.05 AM

Kegiatan Ngobrol Santai dan Pemutaran Film “Tancepan Brahmastra” kembali digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bramasatra bersama Unit Kegiatan Mahsiswa (UKM) Dhrama Gita Jawa dan juga Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (Frontier) Bali, Jumat (03/5/19) lalu.

Koordinator pelaksana, Aditnya Dwiyanto ketika diwawancarai oleh tim Pers Mahasiswa Brahmastra mengungkapkan kegiatan ini cukup ramai di ikuti oleh mahasiswa baik dari lingkungan kampus IHDN Denpasar maupun Kampus lain seperti Universitas Warmadewa, Universitas Udayana, ISI Denpasar yang mengikuti kegiatan ini.
“Tancepan ini merupakan momentum bagi mahasiswa khususnya saya untuk belajar dinamika dalam berkegiatan, banyak hal yang dapat dipelajari yang tentunya bermanfaat kedepanya,” ungkap mahasiswa IHDN Denpasar yang saat ini semester dua.

Pemimpin Umum LPM Brahmastra, Wibhi mengemukakan topik pembahasan dalam tancepan episode dua ini dipilih tentang perempuan, tujuannya adalah mengedukasi kita agar tidak terkungkung dalam anggapan yang mengkultuskan bahwa laki-laki selalu dominan dalam banyak hal paparnya.
“Kita butuh sebuah wadah yang memberi edukasi tentang pentingnya pemahaman kesamaan persamaan hak dan kewajiban dalam konteks pergerakan” ungkapnya

Lebih lanjut Sekjend Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (Frontier) Bali, Krisna Dinata juga menambahkan, pada episode kali ini mengangkat tema perempuan dan menampilkan seorang perempuan yang aktif dalam pergerakan, salah satunya pergerakan Bali Tolak Reklamasi sebab, sesuai teks hindu bahwa perempuan adalah representasi dari ketangguhan.

“Apabila wanita sudah bergerak maka akan menjadi pematik api perlawanan yang kian membesar,” ungkap pria yang juga alumni LPM Brahmastra ini.

img-20190505-wa0042~21733367487610780678..jpg

Diskusi yang bertema perempuan tangguh, bergerak untuk perdaban ini dipatik oleh film berjudul Dibalik Senyum Suriati produksi Satya Kirana Family. Film yang berdurasi sekitar 16 menit ini, menceritakan seorang wanita penderita difabel bernama Suriati dalam perjuanganya menghadapi kerasnya hidup. Selain tentang perjuangan hidup, film ini juga menceritakan usaha Suriati mendirikan Yayasan Bakti Senang hati, sebuah wadah untuk memberdayakan para penderita difabel. Dari usahanya tersebut, menjadikannya sebagai sosok inspirasi bagi banyak orang.

Tancepan brahmastra episode dua kali ini mengundang dua orang permateri, yaitu Dr. I Gede Suwantana, M.Ag. yang merupakan dosen filsafat IHDN Denpasar dan Mirah wardani, seorang perempuan yang aktif dalam gerakan sosial Bali Tolak reklamasi (BTR).

Gede Suwantana menjelaskan bahwa Wanita dalam beberapa teks Hindu, seperti Menawa Dharma Sastra memiliki kedudukan yang diagungkan namun dalam beberapa teks seperti Sarasamuscaya wanita justru seolah memiliki kedudukan yang rendah.
“Bagi orang awam, terkadang teks seperti Sarasamuschaya ini dapat menyesatkan apabila tanpa pemahaman yang mendalam,” ungkapnya.

Lebih lanjut Gede Suwantana menjelaskan di Bali sistem kemasyarakatan lebih didominasi laki-laki sebagai Purusa dan perempuan sebagai pradana, menjadikan perempuan seolah-olah tampak dikesampingkan.
“Namun jangan sampai garis patriarki ini justru mendiskreditkan perempuan,” tegasnya.

Menurut Gede Suwantana dengan perkembangan zaman serta pendidikan, akan membuka pemahaman bahwa manusia memiliki hak yang sama baik laki-laki maupun perempuan, serta pemahaman kolot seperti ini akan perlahan ditinggalkan.

Pemateri kedua, Mirah Wardani menceritakan dinamika yang ia alami saat tergabung dalam gerakan Bali Tolak Reklamasi. Walaupun dia adalah seorang ibu rumah tangga, hal itu tak menyurutkan niatnya berada dalam gerakan tersebut.
“Banyak wanita diluar sana yang malahnan nyiyir terhadap gerakan, mereka terkadang tak mau memahami bahwa Bali kita ini sedang sedang tidak baik-baik saja,” ungkap wanita asal Kesiman itu.

Wanita yang kerap dipanggil mbok Mirah ini juga menegaskan sebagai seorang wanita kita juga harus berani, setidaknya berani berpikir mengenai banyak hal, kendatipun pada akirnya banyak orang gak sepemikiran.

Dia menegaskan bahwa setiap orang harus ikut andil dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.

“Dalam perjuangan tak ada perbedaan, jangan pernah takut dengan tanggapan masyarakat yang kadang masih berkutat dengan pandangan konservatif, kita harus lebih dari itu,” tegasnya dengan penuh semangat.

Tancepan brahmastra episode dua ini ditutup dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Haris Aditya. (Wibhipujas)

Please follow and like us:
error

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Tancepan Brahmastra episode 02, Perempuan Bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)