Tancapan Brahmastra: Wadah Progresif Bagi Mahasiswa Berdinamika

Jumat (01/03), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Brahmastra telah melaksanakan kegiatan Pemutaran Film dan Ngobrol Bareng yang bertajuk “Tancapan Brahmastra”. Kegiatan ini bertempat di halaman Aula Kampus IHDN Denpasar, Jalan Ratna No 51 Denpasar. Acara ini tercipta berkat kerjasama dengan Frontier (Front Demokrasi Perjuangan Rakyat) Bali dan juga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Dharmagita Jawa, selain itu kegiatan ini turut dimeriahkan dengan penampilan dari UKM Musik IHDN Denpasar.

“Tancapan Brahmastra adalah sebuah kegiatan yang digagas oleh kawan-kawan dari Frontier Bali dan LPM Brahmastra, untuk mengadakan sebuah kegiatan yang isinya bincang santai namun berbobot. Selain itu berkat bantuan dari rekan-rekan di UKM Dharmagita jawa, kegiatan ini bia terwujud” ujar Wibhi selaku Pimpinan Umum di LPM Brahmastra.

Krisna Bokis Dinata, sekjend Organisasi Gerakan Mahasiswa Frontier (Front Demokrasi Perjuangan Rakyat) Bali menjelaskan bahwa menjadi suatu semangat dan harapan baru dimana tancapan brahmastra yang merupakan acara kolaborasi antara LPM Brahmastra bersama Frontier Bali mampu dibuat. Sebab, sudah seharusnya kita selalumenghidupi segala ruang dinamika kampus dengan kreativitas dan semangat kolektif.

Bokis menegaskan “Tancapan Brahmastra adalah ruang bagi kita untuk belajar serta berdinamika bersama guna menjadi mahasiswa yang progresif”. Segala potensi yang ada mesti terus digali dan muaranya tidak harus besar dan formil, dengan acara kecil namun tidak melupakan animo keintiman seperti halnya Tancapan Brahmastra.

“Jadi sudah seharusnya mahasiswa memiliki pikiran terbuka serta tidak terkukung sedari dalam pikiran serta segala aktifitasnya,terlebih dalam belajar dan menempa diri,” imbuhnya.

Film yang diputar adalah sebuah dokumenter perjalanan yang di Produseri oleh Komang Ari dengan judul “Pemargi”. “Film ini tercipta ketika saya melakukan perjalanan dari Solo ke Klaten dalam kegiatan Kerja Praktik, ketika saya dalam perjalanan, saya melihat ada sebuah pura yang ada di samping jalan, dan itu menarik perhatian saya” ujarnya.

Pemargi adalah sebuah Film yang bercerita tentang kehidupan umat Hindu di Klaten yang notabene adalah minoritas. Kehidupan beragama yang penuh dengan dinamika, seperti dalam hal ritual yang masih sederhana namun tidak mengurangi makna . dalam segi sosialpun mereka berusaha bertahan dalam masyarakat yang majemuk yang penuh perbedaan.

Komang Ari, selaku produser dari film ini ketika diwawancarai oleh Tim Pers Mahasiswa Brahmastra menceritakan, bahwa masyarakat Hindu disana sangatlah terbuka dan ramah, jadi tak mengherankan jika kedatangannya disana di sambut hangat. Selain itu letak Pura yang juga berdampingan dengan sebuah Gereja membuat umat disana sangat toleran satu sama lain, seperti ketika ada kegiatan di pura, umat Katholik disana membantu parkir kendaraan.

Ia melihat bahwa spiritual agama Hindu di Jawa lebih kuat dan kental dimana ia melihat antusias dan kemauan yang tinggi dari mulai anak anak, para pemuda hingga orang tua dalam belajar ilmu agama. Mereka sadar bahwa pengetahuan penting untuk mereka sebagai landasan dalam kehidupan beragama mereka disana.

Mahasiswi yang sekarang tengah menempuh semester delapan di ISI ini juga mengungkapkan hal yang menurutnya menarik.

“Ketika berinteraksi dengan umat Hindu disana saya melihat kebanyakan dalam pembuatan benten dan mejejahitan di lakukan oleh wanita, namun berbeda dengan disana dimana laki laki yang banyak mengambil alih dalam proses pembuatan banten, bukan apa apa karena memang kemauan dan semangat laki lakinya yang tinggi untuk belajar membuat banten, jadi tak heran jika laki laki disana lebih lihai kaitanya dengan pembutan banten daripada perempuan, yang memang terfokus dalam hal memasak” ujarnya.

Pak suwarno, selaku pemangku disana menceritakan bahwa kurang lebih ada sekitar 40 pura yang tersebar di daerah Klaten. “di Pura Wisnu Sakti sendiri adalah Pura Warisan dari leluhur yang harus ia rawat dan di lestarikan” ujarnya. Umat Hindu disana juga tak lepas dari adanya konflik yang berimbas pada perpindahan agama, seperti pernikahan dan intoleransi. Namun, hal ini tidak menimbulkan permasalahan yang berkepanjangan.

“Yang terpenting dari kehidupan beragama ini kuncinya adalah anak muda, bagaimanapun harus ada kesadaran akan pentingnya melanjutkan apa yang diwariskan oleh leluhur” ujar Dana yang juga selaku tokoh muda di lingkungan Pura Wisnu Sakti.

Komang Ari juga berharap untuk kedepannya semoga pemuatan film seperti ini akan terus berlanjut di tempat yang berbeda, dan dengan fenomena yang berbeda pula. Karena masih banyak umat Hindu di luar sana yang belum terekspos. Ia mengungkapkan bahwa ada satu pesan yang juga ingin disampaikan dari pak Suwarno kepada seuruh umat Hindu khususnya di luar Jawa.

“Beliau menyampaikan untuk tidak khawatir dengan umat Hindu yang ada di Jawa karena mereka masih tetap ada, walaupun dengan jumlah yang sedikit dan terpecah di berbagai wilayah,” tutur Mang Ari.

Film ini memberikan pembelajaran bagi Mang Ari dan juga peserta yang hadir di Tancapan Brahmastra. Dimana pembelajarannya adalah tentang kerukunan, ketulusan dalam keterbatasan dan toleransi akan keberagaman.

Tancapan Brahmastra juga dihadiri oleh Mahasiswa IHDN Denpasar, perwakilan dari setiap ORKEMAS (organisasi kemahasiswaan) di lingkup IHDN Denpasar, selain itu Kawan-kawan dari Universitas Udayana, Universitas Warmadewa dan juga kawan dari Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Bali juga turut ikut serta dalam acara ini.

Untuk memeriahkan acara ini ada penampilan dari UKM Musik, pembacaan Puisi oleh Natri Krisnawan dari UKM Dharmagita Jawa, Haris Aditya dan juga Aditya Putra Pidada. Sebagai pamungkas dalam acara ini adalah Stand Up Comedy oleh Darma Pacul. (Raniwina)

Please follow and like us:
error

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)