Dari Percintaan Sampai Skripsi

Sore tadi saya bertemu pembina dan beberapa kawan yang merupakan adik kelas saya. Pertemuan ini memang sudah kami rencanakan, untuk membahas beberapa rencana kedepan di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Brahmastra IHDN Denpasar. Saya datang terlambat karena ada urusan lain yang harus saya selesaikan. Saat saya datang, pembina saya sudah akan pulang. Sebelum beliau pulang, ia menawarkan saya untuk memesan makanan karena memang beliau berjanji akan mentraktir kami. Langsung saja saya pesan segelas es teh, mumpung gratis pikir saya. Memang kita tidak boleh menolak kebaikan orang. “Gak boleh nolak rejeki.”

Sebelum pulang pembina kami berpesan kepada saya untuk membantu adik-adik meningkatkan kemampuan dalam bidang jurnalistik. Tentu saya jawab “siap pak!”, memang sudah menjadi komitmen saya untuk terus membantu adik-adik di LPM Brahmastra. Saya memang sempat berjanji tidak akan meninggalkan kampus jika LPM Brahmastra belum memiliki pengurus baru. Kondisi LPM Brahmastra pada tahun 2016-2017 memang cukup tragis, memiliki puluhan anggota namun hanya beberapa yang bertahan lama sehingga pergantian pengurus sempat tersendat. Namun bersyukur tahun 2018 LPM Brahmastra berhasil menyegarkan kepengurusannya. Perlu cerita panjang jika membahas hal ini, saya akan bahas pada tulisan berikutnya.

Setelah pembina kami pulang, kami lalu merapatkan tempat duduk kami supaya bisa mengobrol lebih nyaman. Maklum tempat kami bertemu adalah sebuah restoran di pinggir jalan raya, jadi tingkat kebisingannya cukup tinggi. Agar tidak perlu berbicara dengan nada keras, kami memilih untuk duduk berdekatan.

Obrolan kami berlangsung santai dengan berbagai macam topik pembahasan. Dalam salah satu topik kami membahas tentang bagaimana cara agar teman-teman bersemangat dalam menulis. Ada usulan untuk memberikan sebuah “reward” bagi teman-teman yang telah menyumbangkan 5 karya. Selain sebagai apresiasi, hal ini juga dianggap efektif untuk membuat teman-teman bersemangat. Saya menyetujuinya, saya sadar apresiasi terhadap sebuah karya sangat penting. Selain itu juga “budaya” mengumpulkan sertifikat masih berlaku di kalangan mahasiswa.

Akhirnya untuk melepas obrolan yang mulai “mandeg”, salah satu teman menawarkan permainan truth or dare. Suasana langsung riuh, kami mulai bersemangat karena akan bisa menanyakan hal yang “aneh-aneh” kepada teman lainnya. Saya sih berharap tidak akan ditanyakan kapan lulus, huh.

Permainan dimulai, giliran pertama jatuh kepada Diah salah satu teman saya yang paling cantik (karena cuma dia yang ikut kumpul saat itu), hehe. Ternyata pertanyaan yang dia dapatkan seputar dunia percintaan, mungkin karena kami memang tidak pernah melihat Diah berpacaran. Perlu kalian ketahui Diah ini penggemar berat serial Marvel, story medsosnya biasanya dipenuhi foto atau video tiket nonton, cuplikan film dan aktor Marvel yang menurutnya cukup tampan. Ya gantengnya 11 12 sama saya lah (menurut saya). Haha

Akhirnya saya tahu, kalau adik saya ini tidak pernah berpacaran (semacam philophobia). Saat ditanyakan kenapa takut dekat dengan laki-laki, ia mengatakan “geli”. Waduh, kami semua langsung tertawa, apa mungkin saya sebagai laki-laki juga menggelikan ya -_- . Saya rasa ia beranggapan laki-laki menggelikan karena pengalamannya bertemu dengan laki-laki yang “lebay”, “kurang asik” dan “sok romantis.”

Bagi saya perempuan yang merasakan laki-laki itu menggelikan adalah hal yang wajar. Karena memang kadang laki-laki tidak bersikap sewajarnya saat sedang PDKT dengan wanita sasarannya. Nah, karena bersikap “non-natural” ini lah yang menyebabkan kaum hawa merasa “ilfil.” Makanya, bersikap sewajarnya saja, jangan menjadi orang lain, niscaya kita akan menemukan yang sesuai dengan harapan.

Ngomong-ngomong soal kata Ilfil, teman-teman saya mengatakan itu merupakan singkatan dari kalimat Ilang Feeling. Tapi tenyata setelah saya coba cari tahu ke Mbah Google, kata Ilfil itu adalah kata serapan dari kata “Ilfeel” dalam bahasa inggris. Kata Ilfeel juga berarti memuakkan, hilang rasa. So, sama aja sih artinya.

Setelah selesai “menginterogasi” Diah dengan tema pacar, sampailah kepada giliran Wibhi, Pimpinan Umum LPM Brahmastra yang baru. Ternyata teman-teman lebih ingin tahu kenapa Wibhi belum menyelesaikan skripsinya sampai semester 8. Diluar dugaan, Wibhi bercerita bahwa ada “faktor” pacar yang membuatnya baru menggarap skripsinya di semester akhir. Ceritanya, diawal perkuliahan ia sempat memiliki pacar, hubungan mereka berjalan kurang lebih sampai 3 tahun namun kandas ditengah jalan. Nah, kalian mungkin sudah bisa menebak, Wibhi galau dan kehilangan semangat. Tapi untungnya gak sampai depresi sih. Lalu untuk melupakan kegalauannya itu, Wibhi menyibukkan diri dengan bermain musik dan bernyanyi (saya akui suara teman saya ini sangat khas). Selain bermain musik dan menyanyi, laki-laki dengan rambut bergelombang ini juga mengisi waktu dengan membaca, menulis dan berhitung.

Tidak kalah seru, saat giliran sampai kepada teman kami “boy”. Ia pun menceritakan kalau dia pernah punya mantan “cewek luar negeri”. Kami kaget dan memfokuskan perhatian kepada curhatannya. Pada akhirnya juga kandas karena perbedaan negara dan si cewek lebih memilih laki-laki lain. Untung bukan karena dilarang orang tua atau beda agama (masih beruntung pikir saya) :).

Masih ada dua orang lain yang belum mendapat giliran, saya dan Yoga. Nah ternyata Yoga yang mendapat giliran selanjutnya. Tapi cerita tentang Yoga ini akan saya bahas pada tulisan berikutnya. Kenapa? Karena curhatan Yoga ini berkaitan dengan bangsa dan negara (waduh). Ya memang benar curhatannya begitu spesial dan harus dibahas khusus.

Nah sampailah pada giliran saya untuk ditanya, rasanya saya mau kabur saja, haha. Tapi demi rasa keadilan, saya memutuskan untuk menghadapi segala pertanyaan yang akan ditembakkan ke saya. Tapi ternyata pertanyaan “kapan lulus” tidak muncul. Syukurlah!. Tidak kalah seru, saya juga mendapat pertanyaan seputar percintaan. Pertanyaannya kurang lebih begini, “Kak, pacar kakak kan beda agama sama kakak, sudah dipikirin gimana kedepannya?.”

Saya sih menjawab dengan santai saja, maklum pertanyaan seperti ini bukan pertama kalinya saya dapatkan. Saya lalu menjawab sembari menjelaskan seperti orang bijak padahal cara menjadi bijak pun saya tidak tahu, ckck

“Pertama, perlu dipahami dulu bahwa agama itu bukan pilihan, melainkan pemberian. Artinya kita lahir sudah langsung dicap dengan agama sesuai dengan agama orang tua kita. Kedua, bagi kakak agama bukanlah alasan untuk saling mencintai atau saling meninggalkan, karena yang kita cintai kan orangnya dengan segala sifatnya. Ketiga, kakak sudah memikirkan kok bagaimana kedepannya, tentu berkaca kepada pengalaman orang lain yang sudah melakukan pernikahan beda agama. Tapi untuk lebih seriusnya, kakak harus ngomong dulu ke orang tua pacar kakak”, jawab saya panjang lebar.

“Nah, makanya kenapa kakak sekarang pengen cepat lulus, supaya bisa bertemu orang tua pacar kakak,” tambah saya meyakinkan.

Begitulah kira-kira hasil pertemuan singkat kami, tentu ada banyak obrolan lagi yang tidak bisa saya ceritakan dalam tulisan ini. Takut kalian bosan bacanya. Akhir kata saya mengucapkan mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan ini (kayak orang pidato ya. haha

Tetap semangat wahai orang-orang muda!

Please follow and like us:
error

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)