Belajar Dari Sampah

Umat Hindu Nusantara saat ini masih diselimuti semaraknya perayaan hari Galungan dan Kuningan. Harum wewangian dupa dan bunga masih menempel erat diantara megahnya penjor-penjor simbol kemakmuran dan rasa syukur atas keberlimpahan pangan yang diberikan oleh tanah Nusantara ini.

          Pura-pura tampak cantik dengan hiasan kain yang terlihat baru dengan warna putih dan kuning yang mendominasinya. Hal ini akan membawa pikiran untuk memaknai warna putih dan kuning sebagai perlambangan kesucian dan kemakmuran. Mens sana in corpore sano dapat pula diartikan di dalam tubuh yang sehat (makmur) terdapat jiwa yang kuat, ini dapat menjadi alasan warna putih dan kuning dipadukan dalam suatu wastra pelinggih di pura.

Sampah di hari raya

          Semakin ramainya umat Hindu yang datang ke pura, semakin banyak pula sampah sisa upacara yang dihasilkan. Ada yang melihatnya sebagai masalah dan ada pula yang melihatnya sebagai berkah, mari kita logikakan secara sederhana. Secara keseluruhan bahan-bahan upakara berasal dari lingkungan sekitar tempat kita tingga, mulai dari pohon kelapa yang diambil daunya dan buahnya, pandan dan bunga yang kita gunakan sebagai penghias sesajian sampai kepada bambu yang kita jadikan lidi untuk merangkai sebuah banten sehingga menjadi sebuah bentuk yang penuh makna.

          Semua bahan itu tidaklah menimbulkan sampah yang berarti, semua sampak organik itu sangat mudah terurai sehingga tidak menimbulkan masalah sama sekali. Seiring berjalannya waktu, kehidupan masyarakat mulai kompleks sehingga urusan sesajian ini harus pula lebih cepat dan praktis. Maka mulailah bahan-bahan sulit terurai dimasukkan kedalam proses pembuatan upakara. Bisa dihitung mulai dari stapples, plastik sampai kepada besi untuk tempat sesajian.

Konsep Tri Mandala sebagai benteng penanganan sampah

Penggunaan bahan-bahan yang susah terurai ini tentu meninggalkan problem tersendiri disamping keunggulan praktis yang ditawarkan. Kita bersama perlu melihatnya secara menyeluruh mulai dari alih fungsi lahan yang semakin banyak akibat kebutuhan ekonomi yang meningkat. Tetua Hindu Nusantara telah memberikan sebuah konsep dalam pembagian ruang-ruang hidup agar menjadi seimbang yang diberi nama Tri Mandala yang dapat diartikan pembagian kedalam 3 ruang. Uttama Mandala sebagai tempat utama dan khusus yang disediakan untuk tempat pemujaan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dan leluhur, Madya Mandala adalah ruang untuk bangunan rumah dan bangunan pelengkapnya, serta Nista Mandala yang merupakan bagian paling hilir dari sebuah pembagian tatanan perumahan manusia Hindu Bali yang biasanya berisi kebun, kandang ternak dan tempat pembuangan sampah.

Nista Mandala ini lah yang membuat sampah pada rumah orang Bali dahulu dapat dikelola sendiri, dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali, namun karena semakin meningkatnya jumlah sampah non-organic yang dihasilkan dan hilangnya Teba atau halaman belakang rumah orang Bali, maka sampah ini harus dikumpulkan di depan rumah agar bisa diangkut oleh mobil sampah. Dulu tempatnya di belakang, sekarang menjadi di depan pintu keluar bahkan disamping jalan umum yang sangat mengganggu pemandangan.

Masalah sampah ini memang masalah yang sangat kompleks, permasalahan sampah ini berkaitan dengan permasalahan lainnya. Namun jangan khawatir, jika suatu masalah muncul, tentu ada penyelesaiannya. Apapun yang terlahir, termasuk lahirnya masalah dibarengin solusi yang akan mem-pralaya atau memusnahkannya. Kesadaran pengelolaan sampah secara mandiri harus dilakukan terus menerus, tidak ada solusi lain selain memilah, mengolah dan menggunakan kembali samah secara mandiri. Istilah kerennya Reduce, Reuse, Recycle and Repair. Kurangi peggunaan sampah yang sulit terurai, gunakan kembali sampah yang masih berguna, daur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat misalnya sampah organik menjadi pupuk dan sampah botol plastik menjadi pot tanaman atau benda yang berguna lainnya. Tentunya yang tidak kalah penting adalah menyediakan ruang kosong di barat atau selatan rumah sebagai Teben untuk kebun dan tempat memilah sampah. Alasannya, saat sampah ditaruh di depan pintu pekarangan rumah, maka ia telah mengotori suasana rumah dan suasana hati pemiliknya. Sampah adalah berkah atau musibah? Jawabannya dimulai dari tempat sampah itu diletakkan dan cara perlakuannya.

Please follow and like us:
error

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)